Pernahkah Anda mengirim foto desain lemari impian ke pengrajin Jepara, lalu kaget saat menerima penawaran harganya? Seringkali, pertanyaan pertama yang muncul di benak calon pembeli adalah: mengapa furniture handmade mahal jika dibandingkan dengan produk pabrikan di marketplace?
“Lho, di marketplace ada model yang mirip, harganya cuma setengahnya!”
Saya mengerti. Sebagai pemilik perusahaan furniture jati Jepara, saya sering mendengar respon ini. Dan jujur saja, jika saya jadi Anda, saya juga akan bertanya hal yang sama. Mengeluarkan jutaan rupiah untuk sebuah kursi atau meja makan adalah keputusan besar.
Tapi, izinkan saya bertanya balik: Apakah Anda mencari harga termurah untuk hari ini, atau biaya termurah untuk 50 tahun ke depan?
Di artikel ini, kita tidak akan menggunakan bahasa marketing yang berbunga-bunga. Kita akan membedah “dapur” produksi kami secara transparan untuk menjawab mengapa furniture handmade mahal. Kenapa kursi seharga Rp 1,5 juta bisa jauh lebih “murah” daripada kursi Rp 500 ribu dalam jangka panjang?
9 Fakta Teknis: Mengapa Furniture Handmade Mahal?
Berikut adalah 9 alasan teknis (bukan alasan sentimental) yang mendasari harga furniture handmade kami berbeda secara kualitas.
1. Hidden Cost Terbesar: “Kayu Basah” vs “Kayu Oven” (Kiln-Dried)
Banyak mebel murah di pasaran menggunakan kayu yang hanya dijemur matahari (air-dried) sebentar saja. Kelihatannya kering di luar, tapi masih basah di dalam (Moisture Content > 20%). Air dried memang cara pengeringan kayu yang terbaik, tapi butuh waktu yang lama sekali untuk mencapai kekeringan 14%, kurang lebih 6 bulan untuk papan tebal 3 cm!
- Resiko: Dalam 3-6 bulan saat cuaca berubah atau masuk ruang ber-AC, kayu akan menyusut drastis. Sambungan pecah, pintu lemari macet, meja melengkung.
- Standar Kami: Kami menggunakan proses Kiln-Dry (Oven) selama 2-4 minggu hingga Moisture Content (MC) mencapai standar 12-14%.
Biaya listrik oven industri itu tinggi, Pak/Bu. Belum lagi waktu produksi yang molor sebulan hanya untuk pengeringan. Inilah salah satu faktor mengapa furniture handmade mahal, namun ini satu-satunya cara agar mebel Anda tidak “meledak” atau retak di kemudian hari. (Baca selengkapnya tentang standar kayu kami di: Panduan Membeli Furniture Jati Jepara).
![]()
2. Seleksi Bahan: Membuang 30% Kayu (Gubal/Sapwood)
Pohon jati itu seperti daging sapi. Ada bagian tenderloin (inti/galih) yang merah gelap, berminyak, dan keras. Ada bagian lemak/kulit (gubal/sapwood) yang berwarna putih dan empuk.
- Mebel Murah: Memakai semua bagian log kayu, termasuk putihannya (gubal) untuk menekan biaya. Putihan ini tidak mengandung minyak jati alami, sehingga menjadi makanan empuk rayap.
- Mebel Custom Grade A: Kami memotong dan membuang bagian putih itu. Kami hanya pakai bagian merah (Heartwood).
Artinya? Kami membeli 1 log kayu utuh, tapi mungkin hanya 70% yang terpakai. 30% sisanya menjadi limbah (waste) demi kualitas anti-rayap alami. Anda membayar untuk seleksi ketat ini agar tidak perlu pusing memikirkan rayap. (Pelajari lebih lanjut: Perbedaan Grade A, B, dan C pada Kayu Jati).
3. Konstruksi: Teknik Purus (Mortise & Tenon) vs Paku Tembak
Pernah menduduki kursi yang goyang dan berbunyi “krek-krek”? Itu biasanya dirakit secara instan hanya dengan lem dan paku tembak (air nailer). Cepat, murah, tapi rapuh.
Di Kedai Mebel Jati, tukang kami masih menggunakan teknik Purus & Lubang (Mortise & Tenon).
- Setiap sambungan kayu dipahat lubangnya.
- Dibuatkan lidah penguncinya.
- Disatukan hingga presisi tanpa paku.
Satu kursi makan butuh waktu 2-3 hari untuk perakitan struktur saja. Kami membayar keahlian dan waktu tukang senior, bukan sekadar operator mesin pabrik.
![]()
4. Finishing: 7 Tahapan vs 2 Tahapan
Finishing bukan sekadar “mewarnai” kayu. Finishing adalah lapisan pelindung (top coat). Mebel pasar massal seringkali hanya melewati 2-3 tahap: Pewarna campur pelitur -> Semprot -> Jadi. Hasilnya kasar dan gampang gores.
Standar handmade kami melewati 7-9 tahapan:
- Amplas kasar.
- Wood filler (tutup pori).
- Amplas lagi.
- Stain (pewarna).
- Sanding Sealer (dasaran).
- Amplas halus.
- Top Coat (Melamine/PU).
Bahan finishing Grade A (seperti Propan PU) harganya bisa 3x lipat bahan standar. Tapi hasilnya? Meja makan Anda tahan noda kopi panas dan goresan piring. (Cek juga: Cara Merawat Mebel Kayu Agar Awet).
5. Tidak Ada “Economy of Scale” (Biaya Desain & Mal)
Pabrik besar membuat 1.000 kursi yang sama persis. Mereka membuat satu cetakan (mal) yang biayanya dibagi ke 1.000 unit tersebut. Sangat murah.
Saat Anda memesan satu bufet custom ukuran spesifik (misal: panjang 185cm menyesuaikan tembok Anda), kami harus:
- Menggambar desain teknis baru.
- Membuat mal/cetakan baru dari triplek.
- Setting mesin ulang.
Semua biaya persiapan (setup cost) itu dibebankan pada satu unit barang tersebut. Biaya custom inilah alasan kuat mengapa furniture handmade mahal. Anda membayar untuk eksklusivitas dan solusi yang pas 100% dengan ruangan Anda.
6. Tenaga Kerja: Pengrajin vs Operator Mesin
Mebel pabrikan seringkali diproduksi menggunakan mesin CNC otomatis yang diawasi operator. Cepat dan identik.
Mebel handmade Jepara disentuh oleh tangan manusia yang memiliki “rasa”.
- Tukang ukir kami memahat motif secara manual, memberikan kedalaman seni yang tidak kaku.
- Tukang amplas kami meraba setiap sudut lengkungan kursi untuk memastikan tidak ada bagian tajam yang melukai anak Anda.
Anda turut menafkahi keluarga pengrajin lokal yang mewarisi ilmu pertukangan turun-temurun, bukan sekadar memperkaya korporasi pabrik.
7. Fleksibilitas “Smart Solutions”
Mahal itu relatif. Justru dengan custom, kami bisa membantu Anda mengatur budget. Misalnya, Anda ingin lemari besar tapi budget terbatas.
- Solusi Kami: Kita gunakan Kayu Jati Grade A untuk bagian depan (pintu/frame) yang terlihat. Untuk bagian dalam rak atau dinding belakang yang tersembunyi, kita bisa kombinasi dengan Jati Grade B atau kayu mahoni yang lebih ekonomis.
Fleksibilitas “mix-grade” seperti ini tidak akan Anda temukan di toko yang menjual barang fixed price.
8. Durabilitas sebagai Investasi Jangka Panjang
Jika dihitung secara matematika, alasan mengapa furniture handmade mahal di awal sebenarnya justru menghemat uang Anda di masa depan:
- Kursi Murah: Rp 500.000. Rusak/goyang dalam 2 tahun. Ganti baru. Dalam 10 tahun, Anda beli 5x. Total: Rp 2.500.000 + stress + sampah.
- Kursi Jati Custom: Rp 1.500.000. Tahan 20 tahun+. Bisa diwariskan. Total per tahun: Hanya Rp 75.000.
Jadi, mahal di depan (upfront cost) sebenarnya adalah hemat di belakang. Furniture handmade adalah aset, bukan consumable goods (barang habis pakai).
9. Kepuasan Pelayanan yang Personal (Human Touch)
Pernah komplain ke toko besar dan dijawab oleh bot atau Customer Service yang kaku? Di Kedai Mebel Jati, Anda berdiskusi langsung dengan saya (Zulham) atau tim inti produksi. Kami mengirimkan foto progres mingguan—mulai dari kayu mentah, perakitan, hingga finishing.
Transparansi ini “mahal” harganya. Anda tidak membeli kucing dalam karung. Anda melihat sendiri bahwa kayu yang kami pakai benar-benar Jati solid, bukan tempelan.
Kesimpulan: Harga adalah Cerminan Kualitas
Jadi, mengapa furniture handmade mahal? Karena di dalamnya terkandung biaya waktu, material selektif, dan keahlian manusia yang tidak bisa dipotong kompas.
Jika Anda mencari furniture asal jadi untuk dipakai setahun dua tahun, mebel pabrikan adalah pilihan tepat. Tapi jika Anda sedang membangun “rumah impian” dan mencari pengisi ruang yang bisa bercerita hingga ke anak cucu, maka furniture custom Kedai Mebel Jati adalah investasi terbaik Anda.
Siap berdiskusi tentang proyek furniture impian Anda? Jangan ragu konsultasikan budget dan desain Anda. Kami akan carikan solusi terbaik.






0 Comments